Jumat, 08 November 2013

Makalah Pendidikan


KAITAN ANTARA PENDIDIKAN INTERNASIONAL, GLOBAL, DAN KOMPARATIF

BAB I
PENDAHULUAN


A.            Latar Belakang

Dalam memajukan dan mengembangkan pendidikan, suatu negara perlu membandingkan pendidikan negara kita dengan pendidikan di negara lain, dengan tujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaannya, kelebihan dan kekurangannya, lalu mengambil unsur positifnya sekaligus menyesuaikan dengan kondisi lokal. Keberhasilan pendidikan suatu negara tentu dapat menentukan keberhasilan negara tersebut. Atas dasar itu pulalah, negara-negara yang dapat dikatakan maju tentu menjadi pusat perhatian untuk dilakukan penelitian atas keberhasilan atau kesuksesan negara tersebut. Dan, sebagai faktor kunci keberhasilan suatu negara, pendidikan dari negara-negara yang dianggap maju tentu menjadi primadona penelitian dari negara-negara lain yang ingin mengikuti jejak kemajuannya.

Dalam proses meningkatkan kemajuan pendidikan tersebut, munculah ide untuk melakukan studi perbandingan atas negara-negara lain, khususnya negara-negara maju. Studi perbandingan dalam dunia pendidikan inilah dikenal dengan nama perbandingan pendidikan. Dorongan rasa ingin tahu manusia yang kuat, telah mendorong seseorang untuk mengetahui dan mempelajari lebih jauh tentang keadaan kehidupan yang berlaku di luar lingkungan masyarakatnya atau negaranya sendiri. Dan dengan mengetahui keadaan kehidupan yang berlaku di luar lingkungan masyarakatnya sendiri dan dapat mengetahui kehidupan masyarakat lainnya itu akan mengakibatkan terjadinya saling pengertian dan terjadinya kerja sama dan saling tolong menolong untuk mencapai tujuan dan kemajuan bersama. Untuk mengetahui keberadaan di luar masyarakatnya atau bangsa lainnya diperlukan apa yang sekarang dikenal dengan istilah studi komparative atau studi perbandingan dan mengaitkan pendidikan komparatif, global dan internasional. Oleh karena itu, penyusun menyusun makalah yang berjudul kaitan pendidikan internasional, global dan komparatif.

B.     Rumusan Masalah

Bagaimana Cita-Cita Mewujudkan Perdamaian Dunia?
Bagaimana Pendidikan Internasional dan Sejarahnya di Banyak Kawasan?
Bagaimana Perkembangan Perbandingan Pendidikan Komparatif?
Bagaimana Pengembangan Pendidikan Global?
Bagaimana Perbandingan Pendidikan Internasional, Global dan Komparatif.

C.    Tujuan
1.      Mampu mengidentifikasikan pendidikan internasional, global dan komparatif.
2.      Mampu memahami kaitan antara pendidikan internasional, global dan komparatif.









BAB II
PEMBAHASAN

 
A.      Cita-Cita Mewujudkan Perdamaian Dunia

Dewasa ini telah berkembang tiga macam disiplin ilmu yang masing-masing berorientasi pada terwujudnya perdamaian dunia. Sesuai dengan urutan kelahirannya, ketiga disiplin ilmu tersebut secara berturut-turut adalah pendidikan internasional, pendidikan komparatif, dan pendidikan global.
Secara historis diantara ketiga disiplin ilmu diatas yang pertama kali muncul adalah pendidikan internasioal. Kemudian disusul dengan munculnya pendidikan komparatif sebagai upaya sistematis para ahli dalam mempelajari sistem pendidikan di negeri lain di luar batas negara sendiri. Selanjutnya pendidikan global muncul belakangan suatu studi dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran warga bangsa dimasing-masing negara agar mereka menyadari pentingnya menjaga kehidupan kolektif secara global, karena kerusakan hidup disuatu wilayah dunia akan dirasakan kerugiannya oleh seluruh warga dunia secara global.

B.     Pendidikan Internasional dan Sejarahnya di Banyak Kawasan

Pendidikan internasional dikenal dengan sebagai usaha dalam forum internasional untuk mewujudkan harmoni dan perdamaian dunia melalui pendidikan. Carter V. Good menyebutkan ada dua arti dari pendidikan internasional. Arti pertama, bahwa pendidikan internasional adalah studi tentang kekuatan-kekuatan pendidikan, sosial, politik, dan ekonomi dalam konteks hubungan internasional dengan tekanan pada potensi dan bentuk pendidikannya. Arti kedua, pendidikan internasional adalah program internsional yang bertujuan untuk meninngkatkan rasa saling pengertian antar bangsa dengan jalan tukar menukar sarana, teknik dan metode pendidikan, pertukaran pelajar, pertukaran guru/dosen, dan lain-lain.

1.     Pendidikan Internasional di Eropa dan Amerika

Pada abad pertengahan kira-kira abad-13, di Eropa sudah mulai ada beberapa tanda munculnya renaissance. Pada saat itu seorang penasehat raja Prancis Philip IV bernama Piere Du Bois (1250-1321) mengusulkan supaya diadakannya ‘sekolah internasional’. Sekolah ini bertugas menanamkan rasa saling mengerti antar bangsa dan menumbuhkan kerja sama antar bangsa dan biayanya diambilkan dari anggaran perang.

Cita-cita piere Du Bois yang belum terealisir tersebut selanjutnya diteruskan oleh seorang pendidik yang bernama Johan Amos Comenius (1592-1670) yang juga mempunyai gagasan untuk mendirikan sekolah internasional yang beliau beri nama ‘Pan-Shopia”. Sekolah tersebut menurutnya diharapkan akan mampu menyelenggarakan proses belajar mengajar.
Dari paparan ini sudah menunjukkan ada semacam titik terang tentang upaya mewujudkan pendidikan internasional. Adapun dengan mulai adanya usaha-usaha pencarian data yang dilakukan dengan dua metode yang dilakukan oleh Antonie Julien de Paris tersebut maka oleh para ahli disepakati bahwa dialah sebagai perintis pengembangan ilmu pendidikan komparatif.
Dr.Fannie Fern Andrews yang selanjutnya dikenal sebagai perintis pendidikan internasional, mengusulkan kepada presiden Amerika Serikat saat itu yaitu William Taft untuk mempertemukan para pemimpin bangsa dengan maksud meningkatkan kerjasama. Usulan Andrews ini disetujui oleh presiden Taft, yang selanjutnya sejak tahun 1912 mulailah dirintis terwujudnya ‘Konperensi Internasional’ di Den Hag.

Pada tahun 1914 disepakati berdirinya ‘Internasional Bureau of Education’ yang bernaung dibawah League of Nations. Kelanjutan dari keberadaan Internasional Bureau of Education tersebut, pada tahun 1926 dibentuk sebuah komisi kerjasama para kaum intelektual internasional yang disebut ‘Comission on Intelectual Cooperation’ untuk tingkat pusat dan national commision untuk setiap negara dan pada tahun 1922 di San Fransisco membentuk federasi asosiasi pendidikan internasional yang bernama World Federation of Education Associations.

C.    Perkembangan Perbandingan Pendidikan komparatif

Perbandingan pendidikan atau pendidikan komparatif saat ini mulai berkembang pesat dan banyak diminati oleh banyak orang seiring dengan keinginan mayoritas bangsa-bangsa di dunia yang berusaha mempelajari aneka sistem pendidikan di tempat lain dalam rangka memperluas cakrawala diluar batas negaranya sendiri. Upaya bangsa–bangsa tersebut adalah wujud dari keinginan untuk melakukan perbandingan pendidikan, sehingga hal yang positif dapat diadopsi dan diterapkan dalam negaranya sendiri.
Keberadaan pendidikan komparatif tidak lepas dari keberadaan pendidikan internasional yang dapat dikatakan sebagai asal dari ilmu pendidikan komparatif. Semakin meningkatnya beberapa upaya pendidikan internasional yang bertujuan untuk mewujudkan kehidupan dunia yyang lebih harmonis yang melibatkan ahli-ahli dari banyak negara, maka para ahli menjadi tergerak hatinya untuk mempelajari keadaan negara lain. Mereka terlibat aktif dalam upaya mewujudkan kehidupan dunia yang saling menghargai satu sama lain melalui pendidikan internasional, mereka juga mempelajari negara lain khususnya tentang sistem pendidikan di negara lain tersebut agar bisa diterapkan di negaranya sendiri. Upaya mempelajari sistem pendidikan di negara lain agar dapat diadopsi dan diterapkan di negara sendiri yang merupakan bentuk kegiatan pendidikan komparatif.
Dalam buku yang berjudul Pendidikan Komparatif (Rahman,Arif:2010), mengatakan bahwa rintisan usaha penyusunan pendidikan komparatif antara lain dimulai dari fase pertama bahwa pendidikan komparatif baru sebatas informasi-informasi pendidikan di negara lain yang didapat dari cerita para pelancong (Traveller’s tales). Pada fase ini pendidikan komparatif baru berupa laporan-laporan lisan (oral report), misalnya tentang laporan sistem pendidikan di negara Yunani dan Romawi, kemudian laporan cerita perjalanan Marco Polo yang menjelajahi dunia, selanjutnya cerita dari Alexis de Tocquevulle. Baik Marco Polo maupun Alexis de Tocquevulle keduanya menceritakan tentang pendidikan anak-anak di beberapa negara yang pernah mereka kunjingi (Noah and Eckstein dalam T. Neville Postlethwaite, 1988).

Pada fase kedua dimulai sekitar tahun 1980-an penyusunan pendidikan komparatif mulai menemukan bentuk ilmiahnya. Informasi tentang sistem pendidikan di negara mulai dikumpulkan berdasarkan penggalian data-data secara sistematis. Antoine Julie De Paris adalah tokoh berkebangsaan Perancis yang pertama kali mengusulkan pentingnya pengumpulan data-data secara sistematis melalui observasi dan angket tentang sistem pemdidikan di negara lain. Oleh karena itu, Antoine Julie De Paris ini dikenal sebagai bapak perintis pendidikan komparatif sebagai ilmu.
Aneka usaha perintisan dan perkambangan pendidikan komparatif oleh para ahli tersebut akhirnya berkembang sampai sekarang, yakni memasuki abad XXI sebagaimana yang dipelajari sekarang. Dengan perkembangan yang demikian panjang, pada akhirnya pendidikan komparatif semakin mendapat tempat di dunia internasional. Misalnya di negara kita, indonesia, pendidikan komparatif sebagai ilmu semakin berkembang dengan semakin banyaknya studi perbandingan pendidikan baik secara lokal, regional, nasional, maupun inernasional.

1.        Pendekatan

Pendekatan yang digunakan oleh para ahli dalam studi komparatif dapat digolongkan menjadi dua, yaitu makro dan mikro. Analisis makro juga disebut analisis tentang sistem pendidikan dunia.
Pendahuluan dan analisis mikro dapat mengambil ruang lingkup secara regional atau lokal. Dapat secara khusus menganai berbagai pelaksanaan pendidikan atau hubungan antara sekolah dan masyarakat baik yang berlangsung dalam suatu negara maupun lintas negara.
Analisis mikro ini merupakan studi yang tidak jarang bersifat mendalam. Sementara ahli melihat bahwa hasil pandidikan suatu jenis sekolah tidak dapat semata-mata dipelajari hanya dari analisis tentang kebijaksanaan pendidikan seperti penentuan kurikulum, pendidikan guru dan ujian-ujian. Berbagai latarbelakang perlu ditelaah, misalnya sistem nilai masyarakat yang bersangkutan dan adanya kelompok-kelompok serta stratifikasi sosial.
Latarbelakang sosial ini ikut mengambil bagian dalam pencapaian kemampuan dan taraf berpikir siswa-siswa di sekolah. Demikian pula keadaan ekonomi. Sering kali siswa-siswa tertentu tidak dapat maju di sekolah karena mereka berada pada lapisan bawah masyarakat.
Untuk menyelenggarakan studi semacam ini pendekatan mikro menggunakan landasan ilmu-ilmu seperti antropologi dan sosiologi dengan pengamatan yang khas seperti fenomenologi dan interpretasi.
Uraian singkat di atas pada hakekatnya menunjukkan sifat lintas disiplin (interdiscipliner) dari pendidikan perbandingan.

D.     Pengembangan Pendidikan Global

Istilah pendidikan global (global education) dikenal juga dengan perspektif global (global perspective), pendidikan global untuk perspektif global (global education for a global perspective) dan perspektif global dalam pendidikan (global perspektive in education). Semua istilah tersebut memiliki kandungan isi dan metode yang sama. Namun di Indonesia lebih dikenal dengan perspektif global, yang dipahami sebagai ilmu atau studi yang menanamkan cara pandang dan cara berfikir terhadap suatu masalah, kejadian atau kegiatan dari sudut kepentingan global, yaitu dari sisi kepentingan dunia atau internasional (Nursid Sumaatmadja dan Kuswaya Wihardit, 2001).

Menurut John Huckle, globalisasi adalah suatu proses dengan  kejadian, keputusan dan kegiatan di salah satu bagian dunia menjadi satu konsekuwensi yang signifikan bagi individu dan masyarakat di daerah yang jauh. Globalisasi mendorong terwujudnya tipe mayarakat terbuka dalam banyak dimensi. Munculnya tipe masyarakat tersebut merupakan konsekwensi dari perkembangan zaman yang memberikan nilai kepada semua individu, hak dan kewajiban sehingga semua manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk mengembangkan pontensinya dan menyumbangkan kemampuannya bagi kemajuan bangsa khususnya dan kemajuan umat manusia umumnya (Nursid Sumaatmadja dan Kuswaya Wihardit, 2001).

Kemajuan mayoritas bangsa-bangsa di dunia umat manusia pada umunya pada abad ke-21 ini telah yang menjadikan kita masuk pada abad ilmu pengetahuan dengan corak sebagai masyarakat pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan terutama kemajuan teknologi memeberikan kemungkinan dan kesempatan bagi manusia untuk bisa tetap survive meski kekayaan alam semakin menipis atau bahkan habis. Manusia dengan kemajuan teknologi bisa menciptakan bahan pengganti seperti energi bahan bakar gas dan minyak dapat diganti dengan bio-energi, energi hidrogen dan lain-lain. Kemajuan teknologi juga akan melahirkan sistem kerja baru dimana kerja rutin akan diganti oleh mesin, tinggal kerja yang kreatif dan otentik yang dilaksanakan oleh manusia. Artinya, manusia akan tergantung pada teknologi, jadi teknologi menguasai manusia buka sebaliknya. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah belajar bagaimana manusia dapat menyadari, menguasai dan mengendalikan teknologi untuk kemajuan individu, bangsa dan negaranya serta umat manusia pada umumnya. (Zamroni, 2007). Kesadaran inilah yang penting untuk dicapai oleh semua individu dan semua bangsa di dunia untuk mengembangkan komitmen kebersamaan dalam kebaikan, keamanan dan kemakmuran yang ditanamkan secara terus menerus melalui aneka sarana pendidikan.
Dengan pemaparan di atas menunjukkan bahwa pendidikan global memberikan dasar-dasar pemahaman dan kesadaran berupa cara pandang dan cara berfikir terhadap suatu masalah, kejadian atau kegiatan dari sudut pandang kepentingan global. Bahwa manusia hidup dan kehidupan manusia di dunia ini adalah untuk kepentingan global yang lebih luas. Isu, fenomena dan keadaan dalam masyarakat dapat dikategorikan sebagai masalah global, bila ruang lingkup, bobot dan upaya pemecahannya berada pada tingkat dunia. Dari sisi kepentinagan internasional, sikap dan perbuatan manusia sebagai warga dunia dapat diarahkan untuk kepentingan global. Dalam cara berfikir, seseorang dituntut untuk berfikir secara global walaupun dalam bertindak secara lokal. Dalam cara berbuat, tindakan seseorang akan mempengaruhi dunia global.

Menurut Robert Hanvey, terdapat lima dimensi perspektif global, yaitu: (1) Perspective Conciusness, yaitu kesadaran bahwa masing-masing warga dunia memiliki aneka perbedaan, termasuk perbedaan pandanan, oleh karen itu diperlukan adanya penghargaan terhadap aneka pendapat yang berbeda satu sama lain; (2) State of Planet awareness, yaitu adanya pengertian yang mendalam terhadap aneka isu dan berbagai peristiwa global; (3) Cross Cultural awarness, yaitu adanya kesadaran tentang banyaknya budaya yang berbeda dan beraneka ragam namun juga dapat memiliki kesamaan; (4) Systematic awarness yakni, mengetahui banyak sistem yang ada dialam, maka menganal kompleksnya sistem internaional yang terdiri dari banyak faktor negara dan non-negara; dan (5) Option participation, yaitu menegtahui strategi-strategi yang tepat dan ikut berpartisipasi menghadapi isu dan masalah lokal, nasional, dan internasional.

E.     Perbandingan Pendidikan Internasional, Global dan Komparatif

Dalam sejarah pendidikan internasional dikenal sebagai usaha dalam forum internasional untuk mewujudkan harmoni dan perdamaian internasional dengan menggunakan pendidikan sebagai alatnya. Sedangkan pendidikan perbandingan Di dalam bukunya Comparative Education. I.L. Kandel, mengatakan bahwa “pendidikan perbandingan adalah studi mengenai teori dan praktek pendidikan sekarang, sebagaimana dipengaruhi oleh bermacam-macam latarbelakang dan merupakan kelanjutan sejarah pendidikan.

Pendidikan internasional, pendidikan global, dan pendidikan komparatif memiliki keterkaitan ketiganya adalah terletak pada orientasi dari masing-masing mereka yang berujung pada terwujudnya perdamaian dunia. Menurut Suryati Sidharto (1989), pendidikan internasional, pendidikan global, dan komparatif, ketiganya mempunyai tujuan-tujuan pendidikan yang banyak bermuatan ranah efektif. Namun apabila diurutkan mulai dari yang paling tinggi hingga terendah muatan efektifnya, maka urutannya teratas adalah pendidikan global menempati urutan teratas kemudian pendidikan internasional, dan selanjutnya pendidikaan komparatif. Namun demikian, dari urutan muatan kognitif menurut penulis justru terbalik, yaitu pendidikan komparatif, pendidikan internasional dan pendidikan global.
Tinjauan secara historis menunjukkan bahwa timbulnya pendidikan perbandingan itu berhubungan erat dengan pendidikan internasional. Dalam berbagai hal pendidikan perbandingan mempunyai kedudukan untuk diabadikan ke pada pendidikan internasional. Karena usaha-usaha pendidikan perbandingan dapat menyokong usaha-usaha pendidikan internasional.

























































BAB III
PENUTUP

 
A.      Kesimpulan

Dalam memajukan dan mengembangkan pendidikan, suatu negara perlu membandingkan pendidikan negara kita dengan pendidikan di negara lain, dengan tujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaannya, kelebihan dan kekurangannya, lalu mengambil unsur positifnya sekaligus menyesuaikan dengan kondisi lokal. Keberhasilan pendidikan suatu negara tentu dapat menentukan keberhasilan negara tersebut. Atas dasar itu pulalah, negara-negara yang dapat dikatakan maju tentu menjadi pusat perhatian untuk dilakukan penelitian atas keberhasilan atau kesuksesan negara tersebut.
Studi perbandingan dalam dunia pendidikan inilah dikenal dengan nama perbandingan pendidikan. Dorongan rasa ingin tahu manusia yang kuat, telah mendorong seseorang untuk mengetahui dan mempelajari lebih jauh tentang keadaan kehidupan yang berlaku di luar lingkungan masyarakatnya atau negaranya sendiri.

Dengan perkembangan yang demikian panjang, pada akhirnya pendidikan komparatif semakin mendapat tempat di dunia internasional. Misalnya di negara kita, indonesia, pendidikan komparatif sebagai ilmu semakin berkembang dengan semakin banyaknya studi perbandingan pendidikan baik secara lokal, regional, nasional, maupun inernasional.





DAFTAR PUSTAKA

Copy Duty. 2012 Pendidikan Perbandingan.

Arif Rohman. 2010 Pendidikan Komparatif: laksbang Grafika

Dr.Imam Barnadib M.A. 1975 Dasar-Dasar Pendidikan Perbandingan:
Institute Press Ikip, Yogyakarta

Kamis, 31 Januari 2013

Makalah Hadits Tarbawi



MAKALAH
MATA KULIAH : HADIST TARBAWI
DOSEN PENGAMPU : TEGUH MAHAMERU ZH, S.Ag, M.PdI













 











OLEH :
ZULVIYAH
SITI QOMARIYAH


INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL JADID
FAKULTAS TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
TAHUN AKADEMIK 2010/2011
 

KATA PENGANTAR



Bismillahirrohmanirrohim
Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT , karena limpahan rahmat serta hidayah-Nya kami bias menyelasaikan tugas makalah ini dengan baik . sholawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada rasul-Nya .
Makalah ini disusun untuk menyelesaikan tugas mata kuliyah Hadist Tarbawi yang diampu oleh Bapak Teguh Mahameru ZH, S.Ag, M.PdI.
Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelasaian makalah ini, khususnya Bapak Dosen Pengampu mata kuliyah ini yang telah memberikan pedoman tentang penyusunan makalah ini.
Dengan adanya makalah ini, kami berharap bias memotivasi pembaca umumnya serta mahasiswa khususnya uantuk menambah pengetahuna yang dimilikinya, terutama dalam bidang hadist-hadist tentang ibadah terutama dalam sholat.
Kriti dan saran sangat kami perlukan guna memperbaiki makalah ini yang masih jauh dari kesempurnaan.




                                                                                   Probolinggo, 25 Maret 2011




                                                                                   Penyusun















BAB I
PENDAHULUAN


1.      Latar Belakang
“ dan perintahkanlah kepada kelargamu untuk mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.( QS. Thaha : 132)[1]
Dalam ayat di atas Allah SWT memrintahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar merayu kepada keluarganya untuk melaksanakan shalat, sebab shalat merupakan bukti keimanan seseorang kepada Allah SWT . karena itu Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan bahwa shalat itu menjadi tiang agama, maka barang siapa yang mendirikan sholat berarti telah menegakkan agama, dan siapa yang meninggalkan sholat berarti telah menghancurkan agama. Inilah sebabnya yang pertama-tama dipertanggungjawabkan oleh manusia di akhirat nanti pelaksaan sholatnya.
Kewajiban keluarga terhadap keluarganya adalah agar memerintahkan anggota keluarganya untuk melaaksnakan salat . kerana salat merupakan nilai jasmani dan rohani . nilai ibadah shalat dibanding dengan ibadah lainnya sangat penting dan nilai ibadh shalat merupakan ibadah yang  tidak ada udzurnya, dalam keadaan atau situasi bagaimanapun shalat harus tetap ditegakkan sesuai dengan kemampuan . karena begitu penting nilai ibadah shalat harus dibiasakan sejak dini terhadap anak.
    
















BAB II
PEMBAHASAN
1.      Hadist tentang kebiasaan



2.      Arti secara harfiyah
                           :    Perintahlah kepada anak-anak kamu
                           :    Dengan sholat
                           :    Anak-anak
                           :    Tujuh
                           :    Pukulah
                           :    Sepuluh
3.      Terjemah hadist
“ perintahlah kepad anak-anak kamu sekalian untuk mengerjakan shalat sejak usia tujuh tahun, dan ketika diusianya sepuluh tahun, pukullah (sebagai sanksi) bila meninggalkannya (HR. Imam Hakim)[2]
4.      Penjelasan
Hadits diatas menjelaskan bahwa diantara kewajiban kepada keluarga adalah agar memerintahkan anggota keluarganya untuk melaksanakan shalat. Terutama pada anak-anaknya harus di tanamkan mulai sejak usia tujuh tahun dan apabila di usia sepuluh tahun tidak melaksanakan shalat. Sebagai orang tua harus memberi sanksi kepada anaknya agar dapat melaksanakannya, karena ibadah shalat merupakan ibadah pokok yang mempunyai nilai jasmani dan rohani.
Di riwayatkan pula oleh malik dan baihaqi dari aslam, ada diantara kebiasaan umar bin khattab ialah selalu melakukan shalat malam sekuat tenaganya sampai hamper waktu fajar tiba. Kamudian beliau membangunkan keluarganya dan memerintahkan supaya mereka melakukan shalat dengan membaca ayat ini.
Didalam ajaran shalat itu terkandung nilai-nilai positif untuk kehidupan manusia, seperti dapat menanamkan sikap displin, kebersamaan, selalu bersih, patuh terhadap atasan, peduli terhadap bawahan dan lain sebagainya.
Demikian amanah Allah SWT kepada RasulNya sebagai bekal untuk menghadapi perjuangan berat, yaitu lebih menjalin hubungan yang erat dengan khaliqNya dengan tetap mengerjakan shalat dan memperkokoh batinnya dengan sifat tabah dan sabar .  [3]
5.      Hubungan hadist tentang kebiasaan dengan ayat al-qur’an
Penjelasan tentang seruan untuk melaksanakan shalat banyak dijelaskan dalam ayat-ayat al-qur’an di antaranya dalam surat thoha ayat : 132


Artinya :
“ dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak minta rizki kapadamu , kamilah yang memberi rizki dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa “ (QS. Thaha: 132)[4]
  Ayat di atas menjelaskan bahwa diantara kewajiban kepada keluarga adalam agar memerintahkan anggota keluarganya untuk melakukannya dan memelihara shalat. Shalat merupakan ibadah pokok yang mempunyai nilai jasmani dan rohani. 
 Seperti Sabda Rosulullah SAW :


Artinya :
“ Amalan yang mula-mula dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat ialah shalat, jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya, sebaliknya jika jelek, maka jeleklah seluruh amalanya “[5]
Begitulah nilai ibadah shalat disbanding dengan ibadah –ibadah lainnya. Dan ibadah shalat merupakan iabadah yang tidak ada udzurnya, dalam keadaan bagaimanapun shalat harus tetap di laksanakan sesuai dengan kemampuan, kerna begitu penting nilai ibadah shalat harus dibiasakan sejak dini kepada anak.
Shalat merupakan bukti keimanan seseorang kepada Allah SWT. Karena itu nabi Muhammad SAW juga pernah menyatakan bahwa shalat itu tinga agama, maka siapa yang mendirikan shalat berarti ia telah menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat, maka ia menghancurkan agama. Itulah sebabnya, yang pertama-tama dipertanggungjawabkanoleh manusia di akhirat nanti adalah pelaksanaan shalatnya.
Meskipun shalat itu bila dilakasanakan hanya beberapa menit saja, namun masih banyak orang yang mengaku islam, tetapi berat rasanya melakukan shalat. Karena itu harus dilaksanakan dengan penuh kesabaran yang ditanamkan sejak dini.
6.      Derajat Hadist
Menurut kajian hadist di atas , hadist tersebut termasuk hadist shahih denga jalur sanad Imam Ahmad Bin Hambali Abdullah dari Bapaknya, dari Muhammad Bin Abdurrrahaman at-Tawafi dan Abdillah Bin Abi Bakar As-Sahmi, dan Sawwar Abu Hamzah dari Amr Bin Syaib dari bapaknya , dari kakeknya dari Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, jika kita hanya berpegang dan memberijalur periwayatnya dan melihat jalur yang ada, maka hadist ini dikatakan hadist Hasan yang bermartabat tinggi (Ulya) [6] 



























BAB III
KESIMPULAN
  
A.    Kesimpulan
Dari beberapa pembahasan makalah di muka, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.      Shalat itu perlu ditanamkan sejak dini agar anak terbiasa
2.      Kewajiban kepala keluarga kepada anggota keluarganya diantara :
a.  Menyuruh menegakkan shalat
b.  Menanamkan sifat sabar , termasuk sabar dalam menegakkan shalat .
3.    shalat itu merupakan tiang agama, maka barang siapa yang mendirikan shalat berarati telah menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalakan shalat berarti telah menghancurkan agama.
4.    dalam mengerjakan shalat harus murni karena Allah SWT, bukan untuk mengharap kepentingan dunia, karena rizki itu telah ditanggunga oleh Allah SWT.
5.    Taqwa itu akan mengangkat derajat seseorang
B.    Saran-saran
Pada akhir makalah ini, kiranya sudah jelas , bahwa harapan kami dalam membahas tema ini untuk menyadarkan kepada kita bahwa shalat itu sangat penting dan juga merupakan suatu kewajiban yang harus ditunaikan, dan untuk melaksanakan shalat harus dilatih sejak dini agar kita terbiasa dan melakasnakannya harus dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
    



[1] Qur’an Surat Thaha : 132
[2] H. Sulaiman Rasyid Fiqih Islam. 1989. Bandung :Sinar Baru
[3] Drs. H.MR. Abdul Azis. 1994. Qur’an Hadist MA Kelas 2. Semarang : CV. Wicaksana
[4] Qur’an surat Thaha : 132
[5] Drs. M. Kholiq, dkk. 2005. Qur’an Hadist MA Kelas 2. Gresik: CV. Putra Kembar Jaya
[6] http://www.eramuslim.com