MAKALAH
MATA KULIAH : HADIST TARBAWI
DOSEN PENGAMPU : TEGUH MAHAMERU ZH, S.Ag,
M.PdI
OLEH :
ZULVIYAH
SITI QOMARIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL JADID
FAKULTAS TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
TAHUN AKADEMIK 2010/2011
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Puji
syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT , karena limpahan
rahmat serta hidayah-Nya kami bias menyelasaikan tugas makalah ini dengan baik
. sholawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada rasul-Nya .
Makalah
ini disusun untuk menyelesaikan tugas mata kuliyah Hadist Tarbawi yang diampu
oleh Bapak Teguh Mahameru ZH, S.Ag, M.PdI.
Terima
kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses
penyelasaian makalah ini, khususnya Bapak Dosen Pengampu mata kuliyah ini yang
telah memberikan pedoman tentang penyusunan makalah ini.
Dengan
adanya makalah ini, kami berharap bias memotivasi pembaca umumnya serta
mahasiswa khususnya uantuk menambah pengetahuna yang dimilikinya, terutama
dalam bidang hadist-hadist tentang ibadah terutama dalam sholat.
Kriti
dan saran sangat kami perlukan guna memperbaiki makalah ini yang masih jauh
dari kesempurnaan.
Probolinggo,
25 Maret 2011
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
“ dan perintahkanlah kepada kelargamu untuk
mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.( QS. Thaha : 132)[1]
Dalam ayat di atas Allah SWT memrintahkan kepada
Nabi Muhammad SAW agar merayu kepada keluarganya untuk melaksanakan shalat,
sebab shalat merupakan bukti keimanan seseorang kepada Allah SWT . karena itu
Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan bahwa shalat itu menjadi tiang agama, maka
barang siapa yang mendirikan sholat berarti telah menegakkan agama, dan siapa
yang meninggalkan sholat berarti telah menghancurkan agama. Inilah sebabnya
yang pertama-tama dipertanggungjawabkan oleh manusia di akhirat nanti pelaksaan
sholatnya.
Kewajiban keluarga terhadap keluarganya adalah agar
memerintahkan anggota keluarganya untuk melaaksnakan salat . kerana salat
merupakan nilai jasmani dan rohani . nilai ibadah shalat dibanding dengan
ibadah lainnya sangat penting dan nilai ibadh shalat merupakan ibadah yang tidak ada udzurnya, dalam keadaan atau
situasi bagaimanapun shalat harus tetap ditegakkan sesuai dengan kemampuan .
karena begitu penting nilai ibadah shalat harus dibiasakan sejak dini terhadap
anak.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Hadist tentang
kebiasaan
2.
Arti secara
harfiyah
: Perintahlah kepada anak-anak kamu
: Dengan sholat
: Anak-anak
: Tujuh
: Pukulah
: Sepuluh
3.
Terjemah hadist
“ perintahlah
kepad anak-anak kamu sekalian untuk mengerjakan shalat sejak usia tujuh tahun,
dan ketika diusianya sepuluh tahun, pukullah (sebagai sanksi) bila meninggalkannya
(HR. Imam Hakim)[2]
4.
Penjelasan
Hadits
diatas menjelaskan bahwa diantara kewajiban kepada keluarga adalah agar
memerintahkan anggota keluarganya untuk melaksanakan shalat. Terutama pada
anak-anaknya harus di tanamkan mulai sejak usia tujuh tahun dan apabila di usia
sepuluh tahun tidak melaksanakan shalat. Sebagai orang tua harus memberi sanksi
kepada anaknya agar dapat melaksanakannya, karena ibadah shalat merupakan
ibadah pokok yang mempunyai nilai jasmani dan rohani.
Di
riwayatkan pula oleh malik dan baihaqi dari aslam, ada diantara kebiasaan umar
bin khattab ialah selalu melakukan shalat malam sekuat tenaganya sampai hamper
waktu fajar tiba. Kamudian beliau membangunkan keluarganya dan memerintahkan
supaya mereka melakukan shalat dengan membaca ayat ini.
Didalam
ajaran shalat itu terkandung nilai-nilai positif untuk kehidupan manusia,
seperti dapat menanamkan sikap displin, kebersamaan, selalu bersih, patuh
terhadap atasan, peduli terhadap bawahan dan lain sebagainya.
Demikian
amanah Allah SWT kepada RasulNya sebagai bekal untuk menghadapi perjuangan
berat, yaitu lebih menjalin hubungan yang erat dengan khaliqNya dengan tetap
mengerjakan shalat dan memperkokoh batinnya dengan sifat tabah dan sabar . [3]
5. Hubungan hadist tentang kebiasaan dengan ayat
al-qur’an
Penjelasan
tentang seruan untuk melaksanakan shalat banyak dijelaskan dalam ayat-ayat
al-qur’an di antaranya dalam surat thoha ayat : 132
Artinya
:
“ dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan
shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak minta rizki
kapadamu , kamilah yang memberi rizki dan akibat (yang baik) itu adalah bagi
orang yang bertaqwa “ (QS. Thaha: 132)[4]
Ayat di atas
menjelaskan bahwa diantara kewajiban kepada keluarga adalam agar memerintahkan
anggota keluarganya untuk melakukannya dan memelihara shalat. Shalat merupakan
ibadah pokok yang mempunyai nilai jasmani dan rohani.
Seperti Sabda
Rosulullah SAW :
Artinya :
“ Amalan yang mula-mula dihisab dari seorang hamba
pada hari kiamat ialah shalat, jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh
amalnya, sebaliknya jika jelek, maka jeleklah seluruh amalanya “[5]
Begitulah nilai ibadah shalat disbanding dengan
ibadah –ibadah lainnya. Dan ibadah shalat merupakan iabadah yang tidak ada
udzurnya, dalam keadaan bagaimanapun shalat harus tetap di laksanakan sesuai
dengan kemampuan, kerna begitu penting nilai ibadah shalat harus dibiasakan
sejak dini kepada anak.
Shalat merupakan bukti keimanan seseorang kepada
Allah SWT. Karena itu nabi Muhammad SAW juga pernah menyatakan bahwa shalat itu
tinga agama, maka siapa yang mendirikan shalat berarti ia telah menegakkan
agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat, maka ia menghancurkan agama.
Itulah sebabnya, yang pertama-tama dipertanggungjawabkanoleh manusia di akhirat
nanti adalah pelaksanaan shalatnya.
Meskipun shalat itu bila dilakasanakan hanya
beberapa menit saja, namun masih banyak orang yang mengaku islam, tetapi berat
rasanya melakukan shalat. Karena itu harus dilaksanakan dengan penuh kesabaran
yang ditanamkan sejak dini.
6. Derajat Hadist
Menurut kajian hadist di atas , hadist tersebut
termasuk hadist shahih denga jalur sanad Imam Ahmad Bin Hambali Abdullah dari
Bapaknya, dari Muhammad Bin Abdurrrahaman at-Tawafi dan Abdillah Bin Abi Bakar
As-Sahmi, dan Sawwar Abu Hamzah dari Amr Bin Syaib dari bapaknya , dari
kakeknya dari Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, jika kita hanya berpegang dan
memberijalur periwayatnya dan melihat jalur yang ada, maka hadist ini dikatakan
hadist Hasan yang bermartabat tinggi (Ulya) [6]
BAB III
KESIMPULAN
A.
Kesimpulan
Dari
beberapa pembahasan makalah di muka, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai
berikut :
1.
Shalat itu perlu
ditanamkan sejak dini agar anak terbiasa
2.
Kewajiban kepala
keluarga kepada anggota keluarganya diantara :
a. Menyuruh menegakkan shalat
b. Menanamkan sifat sabar , termasuk sabar dalam
menegakkan shalat .
3. shalat itu merupakan tiang agama, maka
barang siapa yang mendirikan shalat berarati telah menegakkan agama, dan barang
siapa yang meninggalakan shalat berarti telah menghancurkan agama.
4. dalam mengerjakan shalat harus murni karena
Allah SWT, bukan untuk mengharap kepentingan dunia, karena rizki itu telah
ditanggunga oleh Allah SWT.
5. Taqwa itu akan mengangkat derajat seseorang
B. Saran-saran
Pada akhir makalah ini,
kiranya sudah jelas , bahwa harapan kami dalam membahas tema ini untuk
menyadarkan kepada kita bahwa shalat itu sangat penting dan juga merupakan
suatu kewajiban yang harus ditunaikan, dan untuk melaksanakan shalat harus
dilatih sejak dini agar kita terbiasa dan melakasnakannya harus dengan penuh
kesabaran dan keikhlasan.
[1]
Qur’an Surat Thaha : 132
[2] H.
Sulaiman Rasyid Fiqih Islam. 1989. Bandung :Sinar Baru
[3]
Drs. H.MR. Abdul Azis. 1994. Qur’an Hadist MA Kelas 2. Semarang : CV. Wicaksana
[4]
Qur’an surat Thaha : 132
[5]
Drs. M. Kholiq, dkk. 2005. Qur’an Hadist MA Kelas 2. Gresik: CV. Putra Kembar
Jaya
[6]
http://www.eramuslim.com