Kamis, 31 Januari 2013

Makalah Hadits Tarbawi



MAKALAH
MATA KULIAH : HADIST TARBAWI
DOSEN PENGAMPU : TEGUH MAHAMERU ZH, S.Ag, M.PdI













 











OLEH :
ZULVIYAH
SITI QOMARIYAH


INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL JADID
FAKULTAS TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
TAHUN AKADEMIK 2010/2011
 

KATA PENGANTAR



Bismillahirrohmanirrohim
Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT , karena limpahan rahmat serta hidayah-Nya kami bias menyelasaikan tugas makalah ini dengan baik . sholawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada rasul-Nya .
Makalah ini disusun untuk menyelesaikan tugas mata kuliyah Hadist Tarbawi yang diampu oleh Bapak Teguh Mahameru ZH, S.Ag, M.PdI.
Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelasaian makalah ini, khususnya Bapak Dosen Pengampu mata kuliyah ini yang telah memberikan pedoman tentang penyusunan makalah ini.
Dengan adanya makalah ini, kami berharap bias memotivasi pembaca umumnya serta mahasiswa khususnya uantuk menambah pengetahuna yang dimilikinya, terutama dalam bidang hadist-hadist tentang ibadah terutama dalam sholat.
Kriti dan saran sangat kami perlukan guna memperbaiki makalah ini yang masih jauh dari kesempurnaan.




                                                                                   Probolinggo, 25 Maret 2011




                                                                                   Penyusun















BAB I
PENDAHULUAN


1.      Latar Belakang
“ dan perintahkanlah kepada kelargamu untuk mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.( QS. Thaha : 132)[1]
Dalam ayat di atas Allah SWT memrintahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar merayu kepada keluarganya untuk melaksanakan shalat, sebab shalat merupakan bukti keimanan seseorang kepada Allah SWT . karena itu Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan bahwa shalat itu menjadi tiang agama, maka barang siapa yang mendirikan sholat berarti telah menegakkan agama, dan siapa yang meninggalkan sholat berarti telah menghancurkan agama. Inilah sebabnya yang pertama-tama dipertanggungjawabkan oleh manusia di akhirat nanti pelaksaan sholatnya.
Kewajiban keluarga terhadap keluarganya adalah agar memerintahkan anggota keluarganya untuk melaaksnakan salat . kerana salat merupakan nilai jasmani dan rohani . nilai ibadah shalat dibanding dengan ibadah lainnya sangat penting dan nilai ibadh shalat merupakan ibadah yang  tidak ada udzurnya, dalam keadaan atau situasi bagaimanapun shalat harus tetap ditegakkan sesuai dengan kemampuan . karena begitu penting nilai ibadah shalat harus dibiasakan sejak dini terhadap anak.
    
















BAB II
PEMBAHASAN
1.      Hadist tentang kebiasaan



2.      Arti secara harfiyah
                           :    Perintahlah kepada anak-anak kamu
                           :    Dengan sholat
                           :    Anak-anak
                           :    Tujuh
                           :    Pukulah
                           :    Sepuluh
3.      Terjemah hadist
“ perintahlah kepad anak-anak kamu sekalian untuk mengerjakan shalat sejak usia tujuh tahun, dan ketika diusianya sepuluh tahun, pukullah (sebagai sanksi) bila meninggalkannya (HR. Imam Hakim)[2]
4.      Penjelasan
Hadits diatas menjelaskan bahwa diantara kewajiban kepada keluarga adalah agar memerintahkan anggota keluarganya untuk melaksanakan shalat. Terutama pada anak-anaknya harus di tanamkan mulai sejak usia tujuh tahun dan apabila di usia sepuluh tahun tidak melaksanakan shalat. Sebagai orang tua harus memberi sanksi kepada anaknya agar dapat melaksanakannya, karena ibadah shalat merupakan ibadah pokok yang mempunyai nilai jasmani dan rohani.
Di riwayatkan pula oleh malik dan baihaqi dari aslam, ada diantara kebiasaan umar bin khattab ialah selalu melakukan shalat malam sekuat tenaganya sampai hamper waktu fajar tiba. Kamudian beliau membangunkan keluarganya dan memerintahkan supaya mereka melakukan shalat dengan membaca ayat ini.
Didalam ajaran shalat itu terkandung nilai-nilai positif untuk kehidupan manusia, seperti dapat menanamkan sikap displin, kebersamaan, selalu bersih, patuh terhadap atasan, peduli terhadap bawahan dan lain sebagainya.
Demikian amanah Allah SWT kepada RasulNya sebagai bekal untuk menghadapi perjuangan berat, yaitu lebih menjalin hubungan yang erat dengan khaliqNya dengan tetap mengerjakan shalat dan memperkokoh batinnya dengan sifat tabah dan sabar .  [3]
5.      Hubungan hadist tentang kebiasaan dengan ayat al-qur’an
Penjelasan tentang seruan untuk melaksanakan shalat banyak dijelaskan dalam ayat-ayat al-qur’an di antaranya dalam surat thoha ayat : 132


Artinya :
“ dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak minta rizki kapadamu , kamilah yang memberi rizki dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa “ (QS. Thaha: 132)[4]
  Ayat di atas menjelaskan bahwa diantara kewajiban kepada keluarga adalam agar memerintahkan anggota keluarganya untuk melakukannya dan memelihara shalat. Shalat merupakan ibadah pokok yang mempunyai nilai jasmani dan rohani. 
 Seperti Sabda Rosulullah SAW :


Artinya :
“ Amalan yang mula-mula dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat ialah shalat, jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya, sebaliknya jika jelek, maka jeleklah seluruh amalanya “[5]
Begitulah nilai ibadah shalat disbanding dengan ibadah –ibadah lainnya. Dan ibadah shalat merupakan iabadah yang tidak ada udzurnya, dalam keadaan bagaimanapun shalat harus tetap di laksanakan sesuai dengan kemampuan, kerna begitu penting nilai ibadah shalat harus dibiasakan sejak dini kepada anak.
Shalat merupakan bukti keimanan seseorang kepada Allah SWT. Karena itu nabi Muhammad SAW juga pernah menyatakan bahwa shalat itu tinga agama, maka siapa yang mendirikan shalat berarti ia telah menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat, maka ia menghancurkan agama. Itulah sebabnya, yang pertama-tama dipertanggungjawabkanoleh manusia di akhirat nanti adalah pelaksanaan shalatnya.
Meskipun shalat itu bila dilakasanakan hanya beberapa menit saja, namun masih banyak orang yang mengaku islam, tetapi berat rasanya melakukan shalat. Karena itu harus dilaksanakan dengan penuh kesabaran yang ditanamkan sejak dini.
6.      Derajat Hadist
Menurut kajian hadist di atas , hadist tersebut termasuk hadist shahih denga jalur sanad Imam Ahmad Bin Hambali Abdullah dari Bapaknya, dari Muhammad Bin Abdurrrahaman at-Tawafi dan Abdillah Bin Abi Bakar As-Sahmi, dan Sawwar Abu Hamzah dari Amr Bin Syaib dari bapaknya , dari kakeknya dari Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, jika kita hanya berpegang dan memberijalur periwayatnya dan melihat jalur yang ada, maka hadist ini dikatakan hadist Hasan yang bermartabat tinggi (Ulya) [6] 



























BAB III
KESIMPULAN
  
A.    Kesimpulan
Dari beberapa pembahasan makalah di muka, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.      Shalat itu perlu ditanamkan sejak dini agar anak terbiasa
2.      Kewajiban kepala keluarga kepada anggota keluarganya diantara :
a.  Menyuruh menegakkan shalat
b.  Menanamkan sifat sabar , termasuk sabar dalam menegakkan shalat .
3.    shalat itu merupakan tiang agama, maka barang siapa yang mendirikan shalat berarati telah menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalakan shalat berarti telah menghancurkan agama.
4.    dalam mengerjakan shalat harus murni karena Allah SWT, bukan untuk mengharap kepentingan dunia, karena rizki itu telah ditanggunga oleh Allah SWT.
5.    Taqwa itu akan mengangkat derajat seseorang
B.    Saran-saran
Pada akhir makalah ini, kiranya sudah jelas , bahwa harapan kami dalam membahas tema ini untuk menyadarkan kepada kita bahwa shalat itu sangat penting dan juga merupakan suatu kewajiban yang harus ditunaikan, dan untuk melaksanakan shalat harus dilatih sejak dini agar kita terbiasa dan melakasnakannya harus dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
    



[1] Qur’an Surat Thaha : 132
[2] H. Sulaiman Rasyid Fiqih Islam. 1989. Bandung :Sinar Baru
[3] Drs. H.MR. Abdul Azis. 1994. Qur’an Hadist MA Kelas 2. Semarang : CV. Wicaksana
[4] Qur’an surat Thaha : 132
[5] Drs. M. Kholiq, dkk. 2005. Qur’an Hadist MA Kelas 2. Gresik: CV. Putra Kembar Jaya
[6] http://www.eramuslim.com